Dosa dan Istighfar

...
Dibagikan oleh Admin pada 17 January 2017

Oleh : Mohammad Luqmanul Hakim (Dosen STAI Luqman Al Hakim)

Dalam menjalani hidup ini, terutama di zaman sekarang, kita seolah dipaksa untuk berbuat dosa, terutama maksiat mata. Berada di dalam ataupun luar rumah, potensi berbuat dosa sama besar. Ketika berada di luar rumah, aurat terbuka di mana-mana. Baik perempuan maupun laki-laki banyak yang tidak menutup auratnya dengan sempurna. 
 Ketika berada di dalam rumah potensi berbuat dosa juga tidak kecil, terutama bagi yang memiliki televisi ataupun alat elektronik semisal laptop dan handphone. Banyak sekali godaan untuk berbuat dosa. Seseorang yang awalnya tak punya niatan bermaksiat mata, akhirnya berlama-lama menikmati dosa.

Itu baru dosa maksiat mata, belum dosa-dosa lainnya yang juga mengintai. Maka tidak mengherankan kalau seorang muslim diarahkan untuk senantiasa mengulang-ulang doa memohan pengampunan (istighfar) setiap hari bahkan setiap waktu.

Saat melakukan shalat, misalnya, banyak bacaan yang berisi permohonan ampunan atas dosa yang dilakukan. Saat membaca doa iftitah terdapat bacaan  agar dijauhkan dari dosa sebagaimana jauhnya jarak antara barat dan timur, agar dosa "dibersihkan" sebagaimana baju kotor dibersihkan, dan agar dosa dicuci dengan air, es, dan embun.

Dalam rukuk dan sujud, setelah mengucap tasbih terdapat doa agar dosa-dosa diampuni oleh Allah. Pada posisi duduk di antara 2 sujud pun begitu, terdapat 3 kata yang semuanya memiliki makna agar Allah mengampuni dosa yang dimiliki; yaitu "Robbighfirlii" (Ya Tuhanku, ampunilah dosaku), "wa'aafini" (maafkan aku), dan "wa'fu 'anni" (maafkanlah kesalahanku).

Doa-doa berisi permohonan ampunan tersebut wajib dibaca berulang-ulang setiap shalat. Kalau dihitung secara matematis maka setiap harinya kita diperintahkan meminta ampun paling sedikit sebanyak 51 kali, dengan rincian 3 kali setiap rakaat dan dalam sehari terdapat 17 rakaat.  Itu kalau hanya mengerjakan shalat wajib 5 waktu. Kalau ditambah shalat sunnah maka jumlahnya lebih banyak lagi.

Namun tidak cukup di situ, nabi Muhammad Saw mengajarkan agar beristighfar sebanyak-banyaknya. Beliau sendiri yang maksum, beristighfar paling sediikit 100 kali dalam sehari  (HR. Muslim).

Hal ini menunjukkan bahwa setiap orang tidak mungkin terlepas dari jeratan dosa. Selalu saja ada dosa yang dilakukan, sehingga harus selalu minta ampun.

Namun anehnya, banyak dari kita yang tidak bersungguh-sungguh dalam meminta ampun. Setiap bacaan istighfar yang ada dalam shalat maupun di luar shalat dilewati begitu saja tanpa penghayatan yang mendalam. Mungkin lisan mengucapkan "astaghfirullahal 'adziim" (saya meminta ampun kepada Engkau wahai Allah Yang Maha Agung), tapi hati dan pikiran mengembara kemana-mana.

Kalau nabi beristighfar paling sedikit 100 kali dalam sehari, banyak di antara kita yang melalui hari-harinya tanpa istighfar 1 kali pun.

Mengapa hal ini bisa terjadi? Tidak lain karena hati yang dimiliki dalam kondisi sakit. Sakitnya pun bermacam-macam; ada yang sakit biasa dan ada juga yang parah mendekati kematian. Sensor dosanya lemah sehingga dosa dianggap hal biasa. Dosa hanya dianggap lalat yang hinggap di hidung, sehingga tak perlu dihiraukan. Atau, dosa justru dianggap makanan yang harus dimakan setiap hari. Na'udzubillahi min dzaalik.

Padahal, dosa memiliki dampak negatif yang banyak. Di antara dampak tersebut adalah, dosa bisa mengakibatkan pelakunya menjadi orang yang lemah akalnya.

Al-Imam Asy-Syafi’i rahimahullah berkata, "Aku pernah mengadu kepada Imam Waki’ akan buruknya hapalanku, maka beliau membimbingku agar meninggalkan maksiat, dan beliau mengatakan kepadaku bahwa ilmu agama itu adalah cahaya, dan cahaya Allah tidak akan dianugerahkan kepada orang yang suka bermaksiat.” (Thabaqot Al-Hanafiyyah, 1/487)

Imam Waki' juga pernah berkata kepada kepada Imam Ali bin Hasyram , “Tinggalkanlah maksiat. Demi Allah, aku tidak menemukan cara yang paling tepat untuk bisa menghapal, daripada meninggalkan maksiat.” (Siyar A’laamin Nubala’, 6/384)

Masih banyak dampak lain dari dosa selain lemah akal. Ibnul Qayyim dalam kitab ad-Da'u wad Dawa' memamaparkan dampak-dampak lainnya, seperti; terhalang dari rezeki dan urusannya dipersulit, hati terasa jauh dari Allah  SWT dan merasa asing,  hati menjadi gelap sebagaimana gelapnya malam, terhalang dari mendapatkan doa para malaikat, dan lain-lain.

Semoga kita selamat dari perbuatan meremehkan dosa, memperbanyak permohonan ampun kepada Allah, dan menghayati istighfar tersebut dengan penghayatan yang mendalam. Amiin.

Berita Terkait