BERITA & KEGIATAN

Life Skill STAIL: Membentuk Dai Mandiri Melalui Digitalpreneur

20 September 2026 Admin STAIL

Surabaya – Dalam rangka membentuk kader dai yang memiliki kompetensi dakwah sekaligus kemandirian ekonomi, STAI Luqman Al Hakim (STAIL) Surabaya melalui program pembinaan Kader Dai Pelosok Negeri menggelar kegiatan Life Skill dengan tema “Membangun Kemandirian Kader melalui Digitalpreneur”, Jum’at (18/9/2026).

Kegiatan yang berlangsung di Asrama Darul Arqam Indonesia, Keputih, Surabaya ini menghadirkan Ustadz Taufiq Husnul Hajar, praktisi digitalpreneur sekaligus alumni STAIL tahun 2012, sebagai pemateri utama.

Dalam sambutannya, Kepala Asrama STAIL, Alim Puspianto, menyampaikan bahwa agenda life skill merupakan bagian dari proses pembinaan kader untuk membekali mereka dengan kemampuan kemandirian, khususnya dalam bidang entrepreneurship berbasis digital.

Menurutnya, seorang kader dai tidak hanya dituntut memiliki kemampuan ilmu dan dakwah, tetapi juga harus memiliki keterampilan hidup agar mampu menghadapi berbagai tantangan ketika terjun di masyarakat.

“Program life skill ini menjadi bagian dari upaya membekali para kader dari sisi kemandirian. Para dai yang nantinya ditugaskan ke berbagai pelosok negeri harus memiliki kemampuan untuk mandiri dan tidak hanya bergantung kepada lembaga tempat mereka ditugaskan,” ujarnya

Ia menjelaskan bahwa program tersebut merupakan bagian dari sistem pengaderan yang mengambil pelajaran dari fase kehidupan Rasulullah ﷺ, khususnya fase berdagang yang mengajarkan nilai kemandirian, kerja keras, profesionalitas, dan tanggung jawab.

“Semangat yang ingin dibangun adalah lahirnya kader dai yang memiliki jiwa pejuang, mampu menangkap peluang, serta tetap fokus menjalankan misi dakwah dengan bekal kemandirian yang kuat,” tambahnya.

Alim juga menyampaikan bahwa agenda Life Skill ini dilaksanakan secara rutin setiap bulan dengan menghadirkan berbagai praktisi dan ahli di bidangnya. Menurutnya, salah satu keunggulan program ini adalah para pemateri yang dihadirkan merupakan praktisi yang juga memiliki latar belakang perjuangan dakwah.

“Para praktisi yang hadir bukan hanya memahami dunia profesional, tetapi juga memahami tantangan yang dihadapi para dai di lapangan. Sehingga materi yang diberikan lebih dekat dengan kebutuhan kader,” jelasnya.

Dalam penyampaian materinya, Taufiq Husnul Hajar mengajak para kader untuk memanfaatkan perkembangan teknologi digital sebagai peluang membangun kemandirian ekonomi.

Ia menjelaskan bahwa era digital menghadirkan banyak peluang, salah satunya melalui pengembangan produk digital yang memiliki kelebihan karena dapat dimanfaatkan dalam jangka panjang.

“Produk digital itu lebih aman karena bisa digunakan sepanjang waktu. Point pentingnya adalah mau belajar, mau mencoba, dan istiqamah dalam menjalani proses,” ungkapnya

Ia berbagi pengalaman bahwa dirinya mulai menekuni dunia digitalpreneur hanya dengan berbekal kemauan belajar secara mandiri melalui berbagai sumber Youtube. Kemudian ia terus mengembangkan kemampuan hingga akhirnya mampu menghasilkan produk yang memberikan manfaat secara ekonomi.

“Saya memulai dari belajar dan terus berproses. Alhamdulillah, sekarang sudah menghasilkan dan cukup untuk memenuhi kebutuhan. Di era digital ini banyak sekali peluang yang bisa kita ambil, tinggal bagaimana kemauan kita untuk memanfaatkannya,” tuturnya.

Ustadz Taufiq juga memberikan motivasi kepada para kader agar berani mengambil peluang sejak dini.

“Kalau bisa sukses dengan cepat, kenapa harus menunggu lama. Jangan takut memulai, karena setiap proses membutuhkan keberanian dan konsistensi,” pesannya.

Sebagai bentuk dukungan kepada para kader, beliau memberikan satu produk digital yang dapat dimanfaatkan maupun dikembangkan kembali sebagai peluang usaha. Selain itu, beliau juga membuka kesempatan pendampingan bagi kader yang serius ingin menekuni bidang digitalpreneur.

Kegiatan tersebut berlangsung dengan penuh antusias. Para kader yang juga mahasiswa STAIL terlihat aktif mengikuti pemaparan materi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan praktis dalam menjalankan bisnis digital.

Salah satu kader, Soumori, mengajukan pertanyaan terkait bagaimana memulai bisnis digital, pengalaman menghadapi komplain pelanggan, serta sistem garansi terhadap produk yang dipasarkan. Pertanyaan tersebut dijawab secara detail oleh pemateri berdasarkan pengalaman praktisnya dalam membangun usaha digital.

Dengan bekal skill digitalpreneur ini, harapannya para Kader Dai Pelosok Negeri mampu tumbuh menjadi para dai yang tidak hanya memiliki kekuatan spiritual dan keilmuan, tetapi juga memiliki kreativitas, produktivitas, dan kemandirian sehingga mampu memberikan manfaat lebih luas bagi umat.