SURABAYA — Semangat perjuangan santri tidak hanya menjadi bagian dari sejarah bangsa. Tetapi juga harus terus diwariskan kepada generasi muda melalui ilmu dan pengabdian di tengah masyarakat. Pesan tersebut menjadi benang merah dalam kegiatan SPIRIT KADER bagi mahasiswa Sekolah Tinggi Agama Islam Luqman Al-Hakim Surabaya. 23/10/2026,
Mengangkat tema “Bersama Santri Membangun Indonesia Bermartabat”, kegiatan yang digelar di masjid Darul Arqam tersebut dimaksudkan untuk memperingati Hari Santri sekaligus memperkuat kesadaran mahasiswa terhadap identitas mereka sebagai santri, kader, dai dan colon pemimpin yang kelak akan mengabdikan diri di berbagai pelosok negeri.
Hadir sebagai pemateri, Ustadz Aulia Elhaq, Lc., M.A., Anggota Dewan Kyai Pondok Pesantren Hidayatullah Surabaya. Dalam pemaparannya, ia mengajak para mahasiswa menelusuri kembali sejarah panjang perjuangan ulama dan santri dalam perjalanan bangsa Indonesia. Mulai dari masa perjuangan kemerdekaan hingga periode setelah kemerdekaan.
Menurut Aulia, sejarah mencatat bahwa santri memiliki peran yang sangat nyata dalam mempertahankan bangsa dan negara. Perjuangan tersebut tidak hanya diwujudkan melalui pendidikan dan dakwah, tetapi juga keberanian mengambil bagian dalam mempertahankan kemerdekaan ketika bangsa berada dalam situasi genting.
Ia juga mengulas secara khusus latar belakang ditetapkannya 22 Oktober sebagai Hari Santri. Tanggal tersebut berkaitan erat dengan lahirnya Resolusi Jihad, yang menjadi salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan umat Islam dan kaum santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Melalui pemaparan sejarah tersebut, Aulia menegaskan bahwa setiap generasi memiliki medan perjuangannya masing-masing. Jika para santri terdahulu menghadapi tantangan dalam bentuk penjajahan dan perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Maka santri masa kini menghadapi tantangan yang berbeda yaitu persoalan pendidikan, moralitas, dakwah, pemberdayaan umat, dan pembangunan masyarakat.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk bersungguh-sungguh dalam menjalani proses pendidikan. Menurutnya, tugas utama santri dan mahasiswa saat ini adalah belajar, memperkuat ilmu, mengasah skill sebaik mungkin sebagai bekal perjuangan di masa mendatang.
Sementara itu, Alim Puspianto, M.Kom.I., selaku Kepala Kepengasuhan Asrama STAIL Surabaya, menjelaskan bahwa kegiatan SPIRIT KADER dimaksudkan agar mahasiswa tidak sekadar memperingati Hari Santri secara seremonial, tetapi mampu memahami akar sejarah dan nilai perjuangan yang terkandung di dalamnya.
Menurutnya, mahasiswa STAIL yang juga hidup dalam kultur kepesantrenan perlu melihat kembali sejarah bahwa kontribusi santri terhadap bangsa merupakan sesuatu yang nyata. Kesadaran historis tersebut diharapkan mampu menumbuhkan optimisme dan rasa percaya diri bahwa santri juga memiliki kemampuan untuk berkontribusi dalam membangun Indonesia.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa perjuangan santri untuk negara dan bangsa ini sangat nyata. Dari sejarah itu diharapkan muncul keyakinan bahwa santri juga mampu memberikan kontribusi dan berperan aktif dalam membangun Indonesia,” ungkapnya.
Ia menambahkan, pesan tersebut menjadi semakin relevan bagi mahasiswa program Kader Dai Pelosok Negeri. Setelah menyelesaikan masa pendidikan, mereka akan ditugaskan ke berbagai daerah, termasuk wilayah pelosok yang membutuhkan penguatan dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat.
Penugasan tersebut merupakan bentuk nyata keberlanjutan peran santri di tengah bangsa. Jika dahulu santri berjuang mempertahankan kemerdekaan, maka di era sekarang ini santri dituntut mengisi kemerdekaan melalui ilmu, dakwah, dan pengabdian. Jika semua santri memiliki kesadaran dan keoptimisan dalam membangun Indoensia maka Indonesia emas 2045 menjadi sebuah keniscayaan.